Mengenal Wali-Wali Allah

kaligrafi-shalatBismillahirrahmanirrahim

Pada tulisan kali ini, penulis akan membagikan sedikit mengenai Wali Allah. Sebagaimana kita ketahui bahwa wali-wali Allah adalah orang-orang yang memiliki iman dan ketaqwaan yang tinggi. Para wali merupakan insan pilihan Allah yang diberikan amanah sebagai utusan Allah untuk mengembalikan akhlak manusia sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saw.

Perubahan dan perkembangan zaman menjadikan akhlak dan moral manusia mengalami pasang surut, terutama bagi mereka yang menjadi semakin jauh dari Islam, atau bahkan mungkin tidak mengenal Islam sama sekali. Oleh karena itulah, pada masa surutnya akhlak dan moral manusia, Allah akan hadirkan dan utus insan-insan pilihan-Nya yang memiliki derajat wali Allah. Wali-wali Allah merupakan penerus perjuangan Rasulullah saw. Wali-wali Allah inilah yang ditugaskan untuk mengembalikan akhlak dan moral manusia ke tingkat tertinggi hingga terpatri dalam jiwa manusia.

Rasulullah saw merupakan insan yang paling sempurna akhlaknya. Pada masa awal kenabian, Beliau memperkenalkan diri sebagai utusan Allah untuk menyempurnakan akhlak. Allah swt dalam firman-Nya menyebut dan menyeru umat Islam agar menjadikan Rasul-Nya sebagai uswatun hasanah, suri Tauladan yang baik. Perjuangan Rasulullah tidak berhenti pada masa hidupnya saja. Beliau, dengan izin Allah, sukses membina sahabat-sahabatnya menjadi manusia berkualitas yang bisa dibanggakan di hadapan seluruh umat manusia bahkan menjadikan musuh-musuh Islam saat itu ketakukan hanya dengan mendengar namanya saja.

Dalam hadits qudsi Allah berfirman tentang wali Allah, yang artinya:

“Wali-waliKu berada di bawah kubah-kubahKu. Tidak ada yang mengetahuinya selain Aku”.

Ibnu Taimiyah pun menyatakan dalam kitabnya,

“Wali Allah adalah orang-orang mukmin yang bertaqwa kepada Allah. Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan pada diri mereka dan mereka tidak merasa khawatir. Mereka beriman dan bertaqwa kepada Allah, bertaqwa dalam pengertian mentaati firman-firman-Nya, penciptaan-Nya, izin-Nya, dan kehendak-Nya yang termasuk dalam ruang lingkungan agama. Semua itu kadang-kadang menghasilkan berbagai karamah pada diri mereka sebagai hujjah dalam agama dan bagi kaum muslimin, tetapi karamah tersebut tidak akan pernah ada kecuali dengan menjalankan syariat yang dibawa Rasulullah s.a.w.”

Kedudukan para wali ini hanya diberikan kepada mereka yang sudah nyata keimanan keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Namun di zaman ini, ada yang mengaku-aku sebagai wali Allah dan telah memperoleh “karomah” dari Allah sedangkan mereka melanggar syari’at agama.

Yang perlu diwaspadai adalah bahwa syaitan dapat membantu seseorang untuk menunjukkan keajaiban-keajaiban (kejadian yang tidak masuk akal). Misalnya, syaitan membantu seseorang untuk menghilangkan keberadaannya dari hadapan orang banyak, meramalkan kejadian yang akan datang. Hal inilah yang dimanfaatkan bagi mereka yang tidak beriman agar manusia yakin bahwa dirinya mendapat karamah dan merupakan wali Allah. Maka, perlu bagi kita mengetahui perkara-perkara luar biasa yang terjadi di dunia ini agar dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil.

Sebagaimana dipaparkan pada artikel sebelumnya, karamah adalah sesuatu pemberian Allah swt yang sifatnya seperti mukjizat para nabi dan rasul, yaitu kebolehan melakukan hal-hal yang luar biasa yang diberikan kepada orangorang yang dikasihi-Nya yang dikenal sebagai wali Allah.

Mudah-mudahan dengan sedikit penjelasan pengetahuan tentang wali-wali Allah dan karamah mereka, menyebabkan terbukanya pintu keberkahan para wali-wali Allah bagi kita, sehingga dapat meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita kepada Allah Yang Maha Pencipta.

PENGERTIAN WALI

Wali dari segi bahasa artinya:

  1. Jika seseorang sentiasa mendekatkan dirinya kepada Allah, dengan memperbanyakkan kebajikan, keikhlasan dan ibadah, dan Allah menjadi dekat kepadanya dengan limphan rahmat dan pemberianNya, maka di saat itu orang itu menjadi wali.
  2. Orang yang senantiasa dipelihara dan dijauhkan Allah dari perbuatan maksiat dan ia hanya diberi kesempatan untuk taat saja.

Adapun asal perkataan wali diambil daripada perkataan al wala’ yang bererti : hampir dan juga bantuan. Maka yang dikatakan wali Allah itu orang yang menghampirkan dirinya kepada Allah dengan melaksanakan apa yang diwajibkan keatasnya, sedangkan hatinya pula sentiasa sibuk kepada Allah dan asyik untuk mengenal kebesaran Allah. Kalaulah dia melihat, dilihatnya dalil-dalil kekuasaan Allah. Kalaulah dia mendengar, didengarnya ayat-ayat atau tandatanda Allah.Kalaulah dia bercakap, maka dia akan memanjatkan puji-pujian kepada Allah. Kalaulah dia bergerak maka pergerakannya untuk mentaati Allah. Dan kalau dia berijtihad, ijtihadnya pada perkara yang menghampirkan kepada Allah. Seterusnya dia tidak jemu mengingat Allah, dan tidak melihat menerusi mata hatinya selain kepada Allah. Maka inilah sifat wali-wali Allah. Kalau seorang hamba demikian keadaannya, nescaya Allah menjadi pemeliharanya serta menjadi penolong dan pembantunya.

Siapakah yang dimaksud wali?

  1. Ibnu Abas seperti yang tercatit dalam tafsir Al Khazin menyatakan “ Wali-wali Allah itu adalah orang yang mengingat Allah dalam melihat”.
  2. Al Imam Tabari meriyawatkan daripada Saeed bin Zubair berkata bahwa Rasulullah s.a.w. telah ditanya orang tentang Wali-wali Allah. Baginda mengatakan “Mereka itu adalah orang yang apabila melihat, mereka melihat Allah”.
  3. Abu Bakar Al Asam mengatakan “Wali-wali Allah itu adalah orang yang diberi hidayat oleh Allah dan mereka pula menjalankan kewajiban penghambaan terhadap Allah serta menjalankan dakwah menyeru manusia kepada Allah”.

PENGGUNAAN ISTILAH WALI DALAM AL-QURAN.

“Allah adalah wali bagi orang-orang yang beriman”. (Al Baqarah: 257)

“Dia menjadi wali bagi orang-orang shalih”. (Al-‘Araf: 196)

“Engkau adalah wali kami, maka kurniakanlah kami kemenangan atas orang-orang kafir”. (Al-Baqarah: 286)

“Yang demikian itu adalah karena Allah itu adalah wali bagi orang-orang yang beriman, sedangkan orang-orang kafir tidak ada wali bagi mereka”. (Muhammad: 11)

“Sesungguhnya wali kamu adalah Allah dan RasulNya”. (Al-Maidah: 55)

Dari semua ayat itu dapat kita lihat bahwa Allah disebut wali, orang mukmin disebut wali, seorang yang dewasa yang diberi tugas melindungi dan memelihara anak kecil juga disebut wali. Dengan demikian orang yang lemah yang tidak dapat mengurus harta bendanya sendiri, lalu dipelihara oleh keluarga yang lain, maka keluarga tersebut itu juga disebut wali.

Begitu pun penguasa/pemerintah yang diberi tanggung jawab pemerintahan juga disebut wali. Ayah atau mahram yang berkuasa yang menikahkan anak perempuannya juga disebut wali. Lantaran itu dapatlah kita mengambail kesimpulan makna yang luas sekali dari kalimat wali ini. Terutama sekali artinya ialah hubungan yang amat dekat (karib), baik karena pertalian darah keturunan, atau karena persamaan pendirian, atau karena kedudukan, atau karena kekuasaan atau karena persahabatan yang karib.

Allah adalah wali dari seluruh hamba-Nya dan makhluk-Nya, karena Dia Maha Kuasa lagi Maha Tinggi. Dan kuasa-Nya itu adalah langsung. Si makhluk tadi pun wajib berusaha agar dia pun menjadi wali pula dari Allah. Kalau Allah sudah nyata tegas dekat atau karib kepadanya dia pun hendaklah bertaqarrub, artinya mendekatkan pula dirinya kepada Allah. Maka timbullah hubungan perwalian yang timbal balik. Segala usaha memperkuatkan iman, memperteguhkan takwa, menegakkan ibadah kepada Allah menurut garis-garis yang ditentukan oleh Allah dan RasulNya, semuanya itu adalah usaha dan ikhtiar mengangkat diri menjadi wali Allah. Segala amal salih, sebagai kesan dari iman yang mantap, adalah rangka usaha mengangkat diri menjadi wali.

Wali pada mafhumnya berarti:

  1. Seseorang yang senantiasa taat kepada Allah tanpa menodainya dengan perbuatan dosa sedikitpun.
  2. Seseorang yang sentiasa mendapat perlindungan dan penjagaan, sehingga ia senantiasa taat kepada Allah tanpa melakukan dosa sedikit pun, meskipun ia dapat melakukannya.

DALIL-DALIL WUJUDNYA WALI ALLAH

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka itu ialah orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Dan bagi mereka diberi berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat”. (Yunus: 62- 64)

Dalam ayat ini Allah swt. menyatakan bahwa para wali Allah itu mendapat berita gembira, baik di dunia mahu pun di akhirat. Apakah yang dimaksudkan dengan berita gembira (Busyra) itu?

Pengertian Al-Busyra (Berita Gembira)

Yang dimaksudkan dengan berita gembira di kehidupan dunia adalah:

  1. Mimpi yang baik seperti yang tersebut di dalam hadis:
    “Al busyraa adalah mimpi yang baik yang dilihat oleh seorang mukmin atau yang diperlihatkan baginya”. (Hadis riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim, menurut Al Hakim hadis ini sahih)
    “Mimpi yang baik adalah seperempat puluh enam bagian dari kenabiaan.”
  2. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan berita yang gembira di dunia ialah turunnya malaikat untuk menyampaikan berita gembira kepada seseorang mukmin yang sedang sakaratul maut.
  3. Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan berita yang gembira di dunia ialah turunnya malaikat kepada seorang mukmin yang sedang sakaratul maut yang memperlihatkan tempat yang akan disediakan baginya di dalam syurga, seperti yang disebutkan dalam firman Allah swt.:
    “Para malaikat turun kepada mereka sambil mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah kamu susah dan bergembirakah kamu dengan syurga yang pernah dijanjikan kepada kamu” (Fushshilat: 62)
  4. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan berita yang gembira di dunia ialah pujian dan kecintaan dari orang banyak kepada seorang yang suka beramal saleh, seperti yang disebutkan dalam hadits berikut:
    “Abu Dzar menuturkan bahwa ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah: “Apakah pandanganmu jika ada seseorang yang suka beramal saleh, sehingga ia dipuji oleh orang ramai?” Sabda beliau: “Itu adalah berita gembira kepada seorang mukmin.”
  5. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan berita yang gembira di dunia ialah karamah dan dikabulkannya segala permintaan seorang mukmin ketika ia masih di dunia, sehingga segala keperluannya dipenuhi oleh Allah dengan segera. Seorang ulama berkata: “Jika seorang mukmin rajin beribadah, maka hatinya bercahaya, dan pancaran cahayanya melimpah ke wajahnya, sehingga terlihat pada wajahnya tanda khusyu’ dan tunduk kepada Allah, sehingga ia dicintai dan dipuji oleh banyak orang, itulah tanda kecintaan Allah kepadanya, dan itulah berita gembira yang didahulukan baginya ketika ia di dunia.”

Sedangkan dimaksudkan dengan berita gembira di akhirat ialah:

  1. Surga beserta segala macam kesenangannya yang bersifat abadi, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang artinya:
    “Yaitu pada hari ketika kamu melihat orang mukmin lelaki dan perempuan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, iaitu surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah kejayaan yang besar.” (Surah Al Hadiid: 12)
  2. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan berita gembira di akhirat ialah sambutan baik dari para malaikat kepada kaum Muslimin di akhirat, iaitu ketika mereka diberi berita gembira dengan keberhasilan, diputihkannya wajah-wajah mereka dan diberikannya buku catatan amal-amal mereka dari sebelah kanan dan disampaikannya salam dari Allah kepada mereka dan beberapa berita gembira yang lain.

Demikian yang bisa penulis share mengenai wali-wali Allah.

Wallahu ‘alam

Sumber: Pondok Habib
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s