Iman dan Logika

Berbicara tentang Iman dan Tauhid adalah ilmu yang tidak lagi melihat sebab akibat ataupun pengaitan dengan logika berpikir. Berbicara Iman dan Tauhid merupakan ilmu tentang menjalankan perintah Allah. Bukan berarti tidak boleh menggunakan logika, akan tetapi logika hanya digunakan sebagai sarana. Ketika suatu keputusan Allah dengan hasil yang kita inginkan tidak lagi sesuai, maka yang perlu kita tanamkan dalam iman adalah ini merupakan perintah Allah.

Misalnya, tidak jarang kita mendengar pepatah rajin (belajar) pangkal pandai. Tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa kalau mau kaya ya kerja, mau sembuh dari sakit ya berobat, mau sehat ya olahraga, kalau punya hajat ya berdoa supaya dikabulkan, kalau seret rezekinya ya sedekah, dan sebagainya.

Ketika kita meyakini ini semua dan mendarah daging dalam logika kita, kemudian kenyataannya tidak sesuai atau berkebalikan hasilnya, tidak sedikit dari kita yang akhirnya kecewa.

Berbeda halnya ketika kita meyakini ini semua sebagai perintah Allah (belajar, kerja, berobat, berdoa, sedekah, dan sebagainya) maka kita insya Allah sedikitpun tidak akan kecewa.

Lalu apa landasannya kita harus meyakini ini semua adalah perintah Allah?

Di dalam Qur’an Surat Adz Dzariyat ayat 56 Allah telah berfirman: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku”

Dari sini saja semestinya sudah bisa menjadi satu keyakinan bagi kita bahwa kita hidup di dunia ini tidak lain adalah hanya untuk beribadah (menjadi ‘Abdillah).

Lalu ketika ada yang bertanya atau berpendapat, “jadi percuma dong berdoa kalau ternyata tidak dikabulkan”, “percuma dong belajar kalau ga akan pintar”, dan lain sebagainya.

Baik. Mari sekarang kita kaitkan QS Adz Dzariyat 56 dengan QS. At Thalaq 2-3. Di dalam QS Ath Thalaq ayat 2-3 Allah berfirman bahwa “… Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah maka akan Allah jadikan baginya jalan keluar. Dan Allah karuniakan rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka… ”

Dari sini dapat dimaknai bahwa perintah beribadah kepada Allah merupakan jalan taqwa (jalan menuju ketaqwaan) yang mesti kita lalui. Pemahaman setiap orang akan ibadah dan jalan taqwa berbeda-beda, sehingga ujian jalan taqwanya pun berbeda-beda.

Namun yang perlu disamakan dan dipatri dalam iman adalah keyakinan akan perintah ibadah dan jalan taqwa. Dengan demikian tidak akan lagi ada keraguan maupun kekecewaan terhadap segala keputusan Allah.

Sebab kita sudah meyakini bahwa belajar, berdoa, berobat, sedekah, olahraga, dan lain sebagainya adalah perintah Allah. Dan kita tidak berhak sedikitpun mengatur atau mendikte Allah dengan alasan logikanya tidak sesuai, harusnya begini dan begitu. Kita akan yakin bahwa ini adalah keputusan Allah yang tentunya ada hikmah dari setiap taqdir-Nya, baik taqdir itu buruk ataupun baik menurut logika kita, sebab menurut hukum Allah itu adalah yang terbaik bagi ummatnya.

Wallahu a’lam

Bab 2 – Takrif Iman

IMAN menurut bahasa berarti percaya. Sebab itu orang yang beriman dikatakan orang yang percaya. Lalu, takrif (pengertian) iman menurut istilah syariat Islam adalah seperti disabdakan oleh Rasulullah SAW yang berbunyi:

الإِيْمَانُ مَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ وَقَوْلٌ بِالْلِسَانِ وَعَمْلٌ بِالْأَرْكَامِ

Artinya: Iman adalah mensenal dengan hati, mengucapkan dengan lidah dan mengamalkan dengan jasad (anggota lahir). (At Tabrani)

Dengan Hadits itu kita diberitahu bahwa iman adalah keyakinan yang dibenarkan oleh hati, diucapkan dengan mulut (lidah) dan dibuktikan dengan amalan. Ringkasnya orang yang beriman adalah orang yang percaya, mengakui dan mengamalkan. Tanpa ketiga syarat itu, orang itu belurn dapat dikatakan memiliki iman yang sempurna. Bila satu dari tiga faktor itu tidak ada, maka dalam Islam orang itu akan dimasukkan pada golongan lain, mungkin fasik, munafikatau kafir.

Mari kita lihat apa yang terjadi pada orang yang tidak memenuhi ke-3 syarat iman tersebut: Continue reading

Bab 1 – Iman

IMAN adalah asas penting, yang menjadi landasan tempat berdirinya pribadi mukmin. Kalau manusia diibaratkan seperti sebatang pohon, maka iman adalah akar tunjang untuk pohon itu. Kalau manusia diibaratkan seperti sebuah rumah, maka iman adalah tapak tempat berdirinya rumah itu.

Demikianlah pentingnya iman dalam usaha melahirkan seorang manusia yang sempurna dan diredhai Allah SWT. Tanpa iman, seseorang itu akan sama seperti pohon yang tidak berakar tunjang atau rumah yang tidak memiliki pondasi. Maknanya, seseorang yang tidak memiliki iman tidak akan memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan hidup. Dia pasti gagal.

Kalaupun ada tanda-tanda Islam melalui ibadah lahir, tetapi ibadah itu tidak akan berfungsi apa-apa sewaktu manusia yang tidak memiliki iman berhadapan dengan persoalan-persoalan hidup. Semakin banyak ibadah, semakin cepat gagalnya, seperti halnya semakin besar pohon yang tidak berakar tunjang, maka semakin cepat tumbangnya atau makin besar rumah yang didirikan di atas lumpur, semakin cepat robohnya.
Continue reading

Iman dan Persoalannya: Muqoddimah

DI ANTARA banyaknya nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita, ada satu nikmat yang paling bernilai dan sangat penting yaitu iman. Maknanya semua nikmat-nikmat lain seperti kesehatan, kepandaian, kecantikan, kemasyhuran, harta benda, uang, pangkat derajat, anak-anak dan lain-lain yang sedang kita nikmati, tidaklah semahal dan sepenting iman. Tapi dalam keadaan krisis nilai sekarang ini, banyak orang telah menganggap bahwa iman tidak penting. Itu dapat dibuktikan dengan melihat sikap hidup mereka. Semua program harian hanya bertujuan untuk mencari keuntungan duniawi, dengan melupakan kepentingan iman. Bentuk kehidupan orang beriman bukan saja dianggap kolot dan ketinggalan zaman tetapi ditentang habis-habisan.

Kehidupan Akhirat yang sering dimimpikan oleh orang-orang beriman, telah mereka lupakan, malah sebagian orang merasa ragu tentang kedatangannya. Maka hiduplah manusia hari ini dengan dipandu oleh akal pikiran dan nafsu setan semata-mata. Akibatnya, masyarakat manusia kini sedang hanyut dilambung gelombang kerakusan nafsu dan setan. Tidak sedikit yang sudah menjadi mangsa dalam perangkap yang dibuatnya. Tanpa iman individu atau masyarakat manusia tidak mungkin akan mendapat ketenangan dan kebahagiaan hidup yang sebenarnya dan abadi. Di dunia akan ditekan oleh kegelisahan dan kekalutan hidup, sedangkan di Akhirat akan Allah benamkan ke dalam api Neraka. Continue reading