Mukhtaarul Ahaadiits No. 5-6

Mukhtaarul Ahaadiits [Kumpulan Hadis-hadis Pilihan] – مختار الأحاديث

٥ – آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ
[رواه الشيخان عن أبي هريرة]

5 – Tanda-tanda orang munafik itu tiga: Jika ia berkata maka ia berdusta, dan jika ia berjanji maka ia melupakan, dan jika ia dipercaya maka ia khianat
[HR. Syaikhoni (Bukhari & Muslim) dari Abi Hurairah]

٦ – آيَةُ الْعِزِّ “وَقُلِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ وكَبِّرْهُ تَكْبِيْرًا
[رواه الإمام أحمد]

6 – (Di antara) tanda-tanda Keagungan (Allah): “Dan katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya’.”
[HR. Imam Ahmad]

Hukum Puasa Sya’ban & Amalan di Malam Nishfu Sya’ban

Penjelasan terkait amalan di Bulan Sya’ban
oleh Buya Yahya | Pimpinan Ponpes Al Bahjah Cirebon

 

syaban

Sya’ban adalah salah satu bulan yang mulia. Bulan ini adalah pintu menuju bulan Ramadhan. Siapa yang berupaya membiasakan diri bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan ini, ia akan akan menuai kesuksesan di bulan Ramadhan.

Dinamakan Sya’ban, karena pada bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khairun katsir). Menurut pendapat lain, Sya’ban berasal dari kata Syi’b, yaitu jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan. Dalam bulan ini terdapat banyak kejadian dan peristiwa yang sangat perlu diperhatikan oleh kaum muslimin. Dan pada bulan ini juga ada beberapa amalan yang biasa dilakukan oleh para Salafuna sholih untuk mempersiapkan dan melatih diri dengan memperbanyak ibadah dalam rangka menyambut bulan Ramadhan.

Diantara amalan tersebut adalah :

I. Puasa

Puasa di bulan Sya’ban itu termasuk disunnahkan karena untuk melatih agar nanti ketika Ramadhan tiba sudah terbiasa dengan puasa. Selain itu bulan ini juga banyak dilalaikan oleh manusia sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa hadits. Namun kita tidak perlu mengkhususkan hari tertentu dari bulan Sya’ban untuk berpuasa karena tidak ada hadits yang benar secara khusus menentukan hari tertentu untuk puasa.Yang ada adalah riwayat yang menjelaskan anjuran puasa bulan Sya’ban secara umum.

II. Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban

Jumhur ulama berpendapat bahwa menghidupkan malam Nishfu Sya’ban hukumnya adalah sunnah baik dengan cara beribadah secara bersama-sama atau sendiri-sendiri dan kita boleh mengisinya dengan bermacam-macam ibadah seperti puasa, sholat dan lain sebagainya. Dan itulah yang dilakukan para Ulama dalam menghidupkan malam Nishfu Sya’ban.

A. Keutamaan Bulan Sya’ban

Disebutkan dalam beberapa hadits Shohih tentang keutamaan Bulan Sya’ban yang sungguh sangat diperhatikan oleh Nabi Muhammad SAW.

1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim

Hadits 1Diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA beliau berkata : “Rasulullah SAW biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah ShallAllohu ‘Alaihi Wasallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

2. Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Imam Abu Dawud dan Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Khuzaimah dan beliau katakan hadits ini adalah shohih

Hadits 2

Dari Usamah bin Zaid berkata: Aku bertanya : Wahai Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban (karena seringnya), beliau menjawab: “Bulan itu adalah bulan yang dilalaikan oleh banyak orang, yaitu antara Rojab dan Ramadhan, di bulan itu diangkat amal-amal kepada Alloh Tuhan semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku berpuasa”.

3. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim

Hadits 3

Dari Sayyidah A’isyah ra beliau berkata : Rasulullah ShallAllohu ‘Alaihi Wasallam tidak biasa berpuasa satu bulan lebih banyak dari bulan Sya’ban. Sesungguhnya Rasulullah SAW berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Imam Bukhari no. 1970 dan Imam Muslim no. 1156) Dalam lafazh Imam Muslim menyebutkan riwayat dari Sayyidah ‘Aisyah radhiyAllohu ‘anha dengan sedikit berbeda.

Hadits 4

“Nabi ShallAllohu ‘Alaihi Wasallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya dan hanya sedikit saja hari-hari berbuka beliau di bulan sya’ban” (HR. Imam Muslim no. 1156)

Dari Riwayat-riwayat tersebut di atas sungguh sangat jelas bahwa Nabi Muhammad SAW sangat memperhatikan Bulan Sya’ban dengan berpuasa.

B. Keutaman Malam Nishfu Sya’ban

Tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban telah banyak hadits dari Nabi Muhammad SAW diantaranya adalah:

1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad Bin Hanbal dan Imam Ibnu Hibban beliau berkata hadits ini shohih yaitu :

Hadits 5

Dari Sayyidah Aisyah ra beliau berkata : “Aku kehilangan Rasulullah SAW pada suatu malam,. Kemudian aku keluar dan aku menemukan beliau di pemakaman Baqi’ Al-Ghorqod” maka beliau bersabda “Apakah engkau khawatir Alloh dan Rasulnya akan menyia-nyiakanmu?” Kemudian aku berkata : “Tidak wahai Rasulullah, sungguh aku telah mengira engkau telah mendatangi sebagian isteri-isterimu”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Alloh menyeru hambanya di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuninyadengan pengampunan yang lebih banyak dari bilangan bulu domba Bani Kilab (maksudnya pengampunan yang sangat banyak)”. (HR. Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad Bin Hanbal dan Imam Ibnu Hibban beliau berkata hadits ini shohih)

Domba Bani Kilab adalah gerombolan Domba terbanyak di Jazirah Arab di waktu itu.

2. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan Imam Baihaqi :

Hadits 6

Dari Sayyidina Ali bin Abu Thalib bahwasanya Rasulullah bersabda, “Apabila tiba malam Nishfu Sya’ban, shalatlah pada malam harinya dan puasalah di siang harinya karena Alloh menyeru hambanya di saat tenggelamnya matahari, lalu berfirman, ‘Adakah yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya, Adakah yang meminta rizki kepada-Ku, niscaya akan memberinya rizki, Adakah yang sakit, niscaya Aku akan menyembuhkannya, Adakah yang demikian (maksudnya Alloh akan mengkabul hajat hambanya yang memohon pada waktu itu)…. Adakah yang demikian…. Sampai terbit fajar.”

3. Hadits yang diriwayatkan Imam Abu Nu’aim dan dikatakan shohih oleh Imam Ibnu Hibban begitu juga Imam Thabrani berkata semua perowinya adalah orang yang dapat dipercaya (Tsiqah) :

Hadits 7

Dari Sayyidina Mu’ad Bin Jabal, dari Nabi SAW beliau berkata : “Alloh Tabaraka wa Ta’ala melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lalu Alloh mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

4. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Musa Al-Asy’ari r.a. :

Hadits 8

Dari Abu Musa Al-asy’ari r.a. , dari Rasulullah SAW, beliau berkata: “Sesungguhnya Allah SWT melihat kepada hambaNya di malam nishfu Sya’ban maka Allah SWT mengampuni semua makhlukNya kecuali orang yang menyekutukan Allah atau orang munafik.“

C. Komentar Para Ulama tentang Malam Nishfu Sya’ban

1. Al-Hafidz Ibnu Rojab AlHambali berkata dalam kitabnya Lathoiful Ma’arif hal 199 – 201:

“Dan malan nishfu sya’ban adalah malam yang para tabi’in negara syam seperti kholid bin Ma’dan, Makhul, Luqman Bin Amir dan yang lainnya mereka mengagungkan malam Nishfu Sya’ban dan mereka bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam tersebut. Dan dari mereka lah umat islam mengambil faham keutamaannya dan keagungannya.”

Dan ibnu hajar melanjutkan :

“Ulama Syam berbeda pendapat dalam menghidupkan malam Nishfu Sya’ban: Pendapat Pertama : Disunnahkan menghidupkannya secara berjamaah di masjid. Dan para ulama tersebut di atas mereka mengenakan pakaian yang paling bagus yang mereka miliki serta membakar kayu harum dan menggunakan celak. Mereka melakukan sholat di masjid pada malam itu. Dan pendapat ini di setujui oleh Ishaq Ibnu Rohawih dan beliau berkata ”Ini bukanlah sebuah bid’ah”.”

“Berkata Imam Syafi’i : Telah sampai berita kepada kami bahwa doa akan di Kabul di lima malam, malam jum’at, malam 2 hari raya, dan Awal Rajab Dan Nifsu Sya’ban.”

2. Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Tadzkirotul Khufadz juz 4 hal 1328 disaat menjelakan biografinya Ibnu Asyakir beliau katakana:

“Ibnu Asyakir adalah seorang hafidz muhaddits Syam yang mempunyai banyak karangan, berkata putra Ibnu Asyakir, yaitu Baha Uddin Al-Qosim berkata “Ayahku (Ibnu Asyakir) selalu berjamaah serta membaca Al-Qur’an dan hatam setiap jum’at dan setiap hari di bulan ramadhan dan selalu ber i’tikaf di menara Asyarqiyah di Damaskus. Beliau selalu memperbanyak sholat sunnah dan dzikir serta menghidupkan malam Nishfu sya’ban dan malam ‘id dengan sholat dan dzikir”.”

3. Berkata Imam Ibnu Haj dalam kitabnya Al-Madkhol juz 1 hal 257:

“Fasl malam nishfu sya’ban Kesimpulannya “Malam Nishfu sya’ban meskipun bukan malam lailatul qodar akan tetapi adalah malam yang mempunyai keutamaan yang sangat agung dan kebaikan yang sangat banyak. Ulama salaf mengagungkannya serta bersungguh-sungguh dalam menyambut kedatangannnya. Dan tidak datang malam Nishfu sya’ban kepada mereka kecuali mereka sudah siap menghidupkannya seperti yang telah diketahui dari mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang mengagungkan syiar Alloh”

4. Berkata Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa nya, (Ibnu Taimiyah adalah tokoh kebanggaan orang-orang yang mengingkari kegiatan di Malam Nishfu Sya’ban). Ibnu Taimiyah berfatwa:

“Apabila ada orang sholat di malam Nishfu Sya’ban dengan sendirian atau berjama’ah sebagaimana yang dilakukan sebagian kaum muslimin itu merupakan hal yang baik”.

Beliau juga berkata dalam kitab yang sama hal 132 “Adapun keutamaan malam Nishfu Sya’ban telah diriwayatkan dari hadits-hadits dan atsar (perkataan para sahabat dan tabi’in) dan sejumlah dari ulama salaf sesungguhnya mereka menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan sholat. Adapun sholatnya seseorang dengan sendirian pada malam Nishfu Sya’ban cara seperti itu telah dilakukan oleh ulama salaf dan dengan hujjah-hujjah (dalil-dalil) yang jelas maka hal ini tidak boleh di ingkari. Adapun sholat jamaah yang mereka lakukan di malam Nishfu Sya’ban ini berdasarkan atas qoidah umum bahwa dianjurkan berkumpul dalam melakukan ketaatan dan ibadah.

Ibnu Taymiyah menjelaskan dalam kitab Iqtidho Shirotol Mustaqim hal 266 :

“Malam Nishfu sya’ban keutamaannya telah diriwayatkan dari banyak hadits-hadits dan atsar (perkataan sahabat dan tabi’in) yang kesimpulannya, “Malam Nishfu sya’ban adalah malam yang diutamakan”. Dan sebagian ulama salaf ada yang mengkhususkannya dengan melakukan ibadah sholat. Dan berpuasa di bulan Sya’ban telah diriwayatkan dari hadits-hadits yang shohih. Ada sebagian ulama salaf dari penduduk kota madinah dan juga sebagian ulama kholaf yang mengingkarinya dan berusaha mencederai hadits-hadits yang menunjukan keutamaannya seperti hadits : “Sesungguhnya Alloh mengampuni di malam Nishfu Sya’ban terhadap dosa dengan pengampunan yang lebih banyak dari bulu domba bani kilab”.

Setelah Mereka yang mencederai hadits tersebut akhirnya mereka berkata bahwa tidak ada perbedaan diantara bulan sya’ban dan bulan lainnya.

Akan tetapi kebanyakan ulama-ulama salaf telah mengutamakan (menghidupkan) malam Nishfu Sya’ban sebagaimana nash riwayat yang jelas dari Imam Ahmad karena banyaknya hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaannya dan juga karena banyaknya perkataan-perkataan dari para ulama salaf yang tersebut dalam kitab musnad-musnad dan sunan-sunan. Meskipun memang ada beberapa riwayat yang lain yang dipalsukan.”

KESIMPULAN

Bagi siapapun yang ingin menyampaikan kebenaran harus jujur dan amanat.

Adapun cara menghidupkan malam Nishfu Sya’ban menurut sebagian ‘Ulama adalah dengan memperbanyak amal-amal yang diajarkan oleh Rosulullah SAW seperti melakukan sholat sunnah hajat, sholat sunnah tasbih, sholat sunnah witir atau dengan bersholawat, berdzikir, beristighfar dan membaca Al-Qur’an atau membaca ilmu yang menjadikan kita semakin dekat kepada Alloh SWT.

Wallohu a’lam Bishshowab

Untuk lebih lengkapnya, dengarkan audio atau baca artikel yang ditulis oleh Buya Yahya terkait
“Hukum Puasa Sya’ban & Amalan di Malam Nishfu Sya’ban”,
silakan klik link berikut:  Audio | Artikel 

Sumber: http://bit.ly/1lb4hYa

HILANGNYA ILMU DENGAN DIWAFATKANNYA ‘ULAMA

HILANGNYA ILMU DENGAN DIWAFATKANNYA ‘ULAMA

بسم الله الرحمن الرحيم

Sungguh para ‘ulama memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah subhanahu wata’ala. Sangat banyak pujian dan sanjungan terhadap mereka dalam Al-Qur’an. Di antaranya firman Allah :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ)) فاطر: ٢٨))

“Hanyalah yang memiliki khasy-yah (takut) kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya adalah para ‘ulama.” [Fathir : 28]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan : Yakni, hanya yang khasy-yah terhadap-Nya dengan sebenarnya adalah para ‘ulama yang mengenal-Nya / berilmu tentang-Nya. Karena setiap kali ma’rifah (pengenalan) terhadap Dzat yang Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Berilmu, yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan nama-nama yang indah, bila ma’rifah terhadap-Nya semakian sempurna dan ilmu tentang-Nya makin lengkap, maka makin bertambah besar dan bertambah banyak pula khasy-yah terhadap-Nya.” Continue reading

Teman Yang Baik

Tanya: Siapakah yang pantas disebut dengan teman yang baik? Jawab: teman yang baik adalah teman yang menemanimu ketika engkau sulit maupun senang.

Tapi ketahuilah, tidak ada satupun yang akan menemani kita dialam kubur kelak! Baik itu teman kita (sekalipun teman kita tersebut orang bertaqwa), bahkan keluarga kita sekalipun! Tapi, menurut sabda nabi, ada teman yang akan menemani kita dialam kubur… Siapakah?!

kubur

Ketahuilah bahwa amalan kitalah yang akan menjadi teman yang menemani kita di alam kubur!

Nabi bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ

“Suatu yang mengikuti mayat ada tiga, dua kembali pulang, dan satu ikut bersamanya… Continue reading

KONTROVERSI HUKUM PUASA ROJAB : SUNNAH/BID’AH?

Oleh Buya Yahya Cirebon:

Masalah penetapan awal Bulan Hijriyah adalah kebijakan pemerintah agar tidak terjadi perpecahan dalam umat islam yang biasanya sering silang pendapat antara rukyah & hisab dalam penentuan awal bulan.

Untuk Bulan Rajab 1435 H, tanggal satunya adalah besok hari kamis 1 Mei 2014. Jadi, bagi kaum Muslimin Indonesia yang hendak melaksanakan Ibadah Puasa Sunnah Rajab bisa memulai Niat & Sahur malam ini juga. Untuk Kaum Muslimin di luar Indonesia dan di manapun berada silahkan mengikuti ketentuan penetapan awal bulan hijriyah di negri tempat anda tinggal sekarang. Continue reading

Hukum Puasa Rajab

rajab-syaban-ramadhan1

DALIL PERTAMA

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الأَنْصَارِيُّ ، قَالَ: سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ؟ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ. فَقَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللّهِ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَيُفْطِرُ. وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ.

 

“Sesungguhnya Ustman Ibn Hakim Al-Anshori, berkata: “Aku bertanya kepada Sa’id Ibn Jubair tentang puasa di bulan Rajab dan ketika itu kami memang di bulan Rajab”, maka Sa’id menjawab: “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: “Nabi Muhammad SAW berpuasa (di bulan Rajab) hingga kami katakan beliau tidak pernah berbuka di bulan Rajab, dan beliau juga pernah berbuka di bulan Rajab, hingga kami katakan beliau tidak berpuasa di bulan Rajab.” (H.R Muslim) Continue reading

Seutama-utamanya Perbuatan

Kajian    : Mukhtaarul Ahaadits (مختار الأحادث)
Oleh       : Ustadz KH M. Rusydi Ali
Waktu    : 16 Maret 2014 / ١٥ جمادى الأولى ١٤٣٥
Tempat  : Masjid Almujahidin (مسجد المجاهدين), Menteng Atas

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أنْ يَتَعَلَّمَ المَرْءُ المُسْلِمُ عِلْمًا، ثُمَّ يُعَلِّمُهُ أخَاهُ المُسْلِمَ
رواه إبن ماجه

“Seutama-utamanya sedekah adalah jika sesorang belajar kepada seorang Muslim suatu ilmu, kemudian ia mengajarkan ilmu tersebut kepada saudara Muslim lainnya.” (HR. Ibnu Majah)

أفْضَلُ العِيَادَةِ أَجْرًا سُرْعَةُ القِيَامِ مِن عِنْدِ المَرِيْضِ
رواه الديلمي عن جابر

“Seutama-utamanya kunjungan (terhadap orang sakit) yang besar pahalanya adalah mempercepat berdiri (meninggalkan) dari sisi orang yang sedang sakit.” (HR. Addailami dari Jabir) Kecuali jika orang yang berkunjung adalah yang dapat menyenangkan si sakit, seperti keluarga dan sahabat dekat.

Dan apabila kita mengetahui saudara kita (termasuk teman) ada yang sakit adalah bersegera mengunjunginya sebagaimana hadits Rasulullah pada artikel sebelumnya AKU sakit, kau tidak menjenguk-KU.

أَفْضَلُ الفَضَائِلِ أنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ، وَ تُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ، وَتَصْفَحَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ
رواه الطبرني عن معاذ

“Seutama-utamanya perkara yang utama adalah jika kamu menyambung (silaturahim) orang yang memutuskanmu, dan kamu memberi orang yang mengharamkanmu (pelit), dan kamu membalas kebaikan orang menzolimimu.” (HR. Thobroni dari Mu’adz)

Dalam kisah para sahabat, Rasulullah pernah bersabda agar mendoakan orang menyediakan makan untuk kita dengan doa berikut.

اللّٰهمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي وَ اسْقِي مَنْ سَقَانِي

Alloohumma ath'im man ath'amanii wasqii man saqoonii

“Ya Allah berilah makan orang yang telah memberiku makan, dan berilah minum orang yang telah memberiku minum”

Doa ini juga bisa dibaca untuk orang yang mentraktir kita. Lebih Utama lagi DOA ini ditujukan untuk orang tua kita.

واللّٰه أعْلمْ بِالصواب