Isim Maushul (اِسْم مَوْصُوْل)

Isim Maushul (Kata Sambung) adalah Isim yang berfungsi untuk menghubungkan atau menggabungkan beberapa kalimat atau pokok pikiran menjadi satu kalimat. Dalam bahasa Indonesia, Kata Sambung ini biasanya diwakili dengan kata: “yang”.

Bentuk asal/dasar dari Isim Maushul adalah: الَّذِيْ (=yang).

Isim Maushulcontoh tunggal:
جاء الطالب /– datang seorang murid
الطالب يدرس الفقه – seorang murid belajar fiqih

Maka penggabungannya menjadi جاء الطالب الَّذِيْ يدرس الفقه – datang seorang murid yang belajar fiqih

Continue reading

Advertisements

Isim Isyarah (اِسْم إِشَارَة)

ArabicPada pembahasan sebelumnya, penulis sudah menyampaikan penggolongan isim (إسم) berdasarkan jenis kelamin (mudzakkar dan muannats), jumlah (mufrad, mutsanna, dan jamak), maupun kata ganti. Untuk artikel kali ini, penulis akan menyampaikan jenis isim yang lain, yaitu isim isyarah (اِسْم إِشَارَة).

Isim isyarah atau kata tunjuk pada dasarnya ada 2 (dua) macam, yaitu:

  1. هَذَا (ini) untuk menunjuk yang dekat. Contoh: هَذَا كِتَابٌ (ini sebuah buku)
  2. ذَلِكَ (itu) untuk menunjuk yang jauh. Contoh: ذَلِكَ كِتَابٌ (itu sebuah buku)

Kedua isim di atas digunakan saat menunjuk isim mudzakkar dengan jumlah mufrad (satu). Sedangkan apabila isim yang ditunjukkan adalah mufrad muannats, maka: Continue reading

Benarkah Kita Harus Kembali pada Quran dan Hadits?

Tulisan ini dibuat karena teringat akan Ustadz ‘Athoillah al Palimbani, beberapa waktu lalu saat berkunjung ke Jakarta.

Ustadz ‘Athoillah (A): “Humam, tentunya kamu sering mendengar seruan ‘Kita harus kembali kepada Quran dan Hadits. Kalau tidak, maka kita akan tersesat.’ Menurut kamu bagaimana? Apa maksud dari seruan itu?”

Penulis (P): “Betul dong kita harus kembali kepada Quran dan Hadits. Kembali kepada Quran dan Sunnah kan berarti segala sesuatunya merujuk kepada Quran dan Hadits.”

A: “Sekarang pertanyaannya begini. صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي. Sholatlah kalian seperti kamu melihat aku (Rasulullah) sholat. Disebabkan seruan untuk kembali kepada Quran dan Hadits, lalu ada orang yang berpendapat bahwa sholat itu tidak wajib atas dirinya karena dia tidak melihat Rasul sholat.”

P: “Wah ya kalo diartikan seperti itu ya salah”

A: “Lah kan tadi seruannya kembali kepada Quran dan Hadits”.

Continue reading

Dalil Tentang Cap Kenabian

عَنْ سِمَاكٍ قَالَ: سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ سَمُرَةَ قَالَ: رَأَيْتُ خَاتَمًا فِى ظَهْرِ رَسُوْلِ اللهِ ص، كَاَنَّهُ بَيْضَةُ حَمَامٍ. مسلم 4: 1823

Dari Simak, dia berkata : Aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah berkata, “Aku pernah melihat cap (tanda kenabian) pada punggung Rasulullah SAW bagaikan telur burung merpati”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1823]

Stempel Nabiعَنِ اْلجَعْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمنِ قَالَ: سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيْدَ يَقُوْلُ: ذَهَبَتْ بِى خَالَتِى اِلَى رَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّ ابْنَ اُخْتِى وَجِعٌ. فَمَسَحَ رَأْسِى وَ دَعَا لِى بِاْلبَرَكَةِ. ثُمَّ تَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوْئِهِ ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ اِلَى خَاتَمِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْلِ زِرّ ْالحَجَلَةِ. مسلم 4: 1823

Dari Ja’d bin ‘Abdurrahman, ia berkata : Aku mendengar Saib bin Yazid berkata : Bibiku pernah menemui Rasulullah SAW bersamaku. Bibiku berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya keponakanku ini sedang sakit”. Lalu aku melihat beliau mengusap kepalaku dan mendoakan aku supaya mendapat berkah. Setelah itu beliau berwudlu. Dan aku meminum dari sisa air wudlunya. Kemudian aku berdiri di belakang beliau, maka aku melihat ada sebuah cap (tanda kenabian) diantara kedua belikat beliau seperti telur burung merpati”. [HR Muslim juz 4, hal. 1823] Continue reading

Bolehkah Beramal dengan Hadits Dha’if?

Bismillahirrahmanirrahim

Tidak jarang saat ini banyak pertanyaan terkait boleh tidaknya beramal dengan hadits dha’if. Ada pendapat yang menyatakan boleh. Ada pula pendapat yang membid’ahkan bahkan menggolongkan sesat bagi yang mengamalkannya.

Tulisan ini dimuat bukan berarti penulis sudah paham dengan hadits maupun menterjemahkan hadits. Bahasa Arab saja belum bisa, bagaimana bisa paham dengan terjemahan hadits. Sebab kita tahu bahwa bahasa Arab memiliki tingkatan makna. Jadi alangkah “lucunya” jika penulis menterjemahkan hadits dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki.

Oke, kembali kepada judul artikel ini. Bolehkah Beramal dengan Hadits Dha’if?

Berdasarkan apa yang pernah penulis pelajari dari guru penulis, Ust. Athoillah al Palimbani, dan juga berdasarkan referensi dari Kitab 40 Masalah Agama jilid 3 karangan Ustadz KH. Sirajuddin Abbas (Ulama kelahiran Bukittinggi, 1905-1980), maka beramal dengan hadits dha’if adalah diperbolehkan. Continue reading

Apakah Malaikat Izrail Juga Akan Mati?

matiPertanyaan:
Apakah Malaikat Izrail juga mati: dan Syaithan Iblis pun mati pula; dan siapa yang mengambil rohnya?

Jawaban:

Mati menurut ahlussunnah adalah suatu perkara yang wujudi yang dijadikan lagi dapat dilihat. Setiap yang bernyawa tentu akan merasai mati. Karena mati itu termasuk salah satu dari makhluk Allah, maka dengan sendirinya mati itu dijadikan oleh Allah. Dan karena kematian itu adatnya disertai dengan berpisahnya ruh dari pada jasad, maka pada hakikatnya yang memisahkan ruh dari jasad itu adalah Allah swt. Akan tetapi secara majaznya, pencabutan ruh itu ditugaskan Allah swt. kepada Malakul Maut, artinya Malaikat kematian, yaitu Malaikat yang bernama Azrail. Dan Malakul Maut itu banyak mempunyai pembantu dari pada Malaikat-malaikat sebagai staf dari bagian pencabutan nyawa ini. Continue reading

Lima Syarat Agar Bernilai Ibadah (Berpahala)

Rasulullah telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara menyembah dan membesarkan agama Allah, sebagai pedoman bagi kita. Allah berfirman, “Tidak Aku jadikan jin dan manusia itu melainkan untuk beribadah kepada Ku” (Az Zariat : 56). Caranya telah ditunjukkan oleh Rasulullah melalui wahyu dari Allah dan hadits-hadits. Apa yang dikatakan oleh Rasulullah merupakan wahyu dan Ilham dari Allah. Firman Allah, “Tidaklah Rasulullah bersabda mengikuti hawa nafsuNya, tetapi apa yang diwahyukan oleh Allah”.

Konsep ibadah yang ditunjukkan oleh Rasulullah sangat luas. Bukan hanya menjalankan Rukun Iman dan Islam saja, wirid zikir saja. Menegakkan rukun islam dan iman adalah wajib, merupakan pondasi dalam ajaran Islam. Sedangkan ibadah furuk atau ranting-ranting, cabang-cabangnya banyak sekali. Ada berupa Fardlu kifayah, sunat mu’akad, sunat ghairu mu’akad, dan mubah. Allah dan Rasul juga menginginkan kita menjadikan perkara mubah sebagai ibadah. Mulai dari yang kecil hingga perkara besar bisa dijadikan ibadah. Cara berpakaian, melakukan ekonomi, bermasyarakat, dan sebagainya dijadikan sebagai ibadah.

Seandainya semua persoalan kita jadikan sebagai ibadah, maka hidup kita 24 jam dalam ibadah dan mengabdi kepada Allah. Kita tidak menyia-nyiakn waktu yang Allah berikan kepada kita. Tetapi kalau kita hanya jadikan ibadah pada perkara-perkara mubah saja, sedangkan yang lain tidak, maka inilah yang dikatakan kita menyia-nyiakan umur. Kenapa demikian???…karena ibadah wajib hanya beberapa jam saja, sedangkan ibadah furuk banyak sekali.

Jadi bagaimana setiap usaha kita jadi ibadah? Continue reading