Bolehkah Beramal dengan Hadits Dha’if?

Bismillahirrahmanirrahim

Tidak jarang saat ini banyak pertanyaan terkait boleh tidaknya beramal dengan hadits dha’if. Ada pendapat yang menyatakan boleh. Ada pula pendapat yang membid’ahkan bahkan menggolongkan sesat bagi yang mengamalkannya.

Tulisan ini dimuat bukan berarti penulis sudah paham dengan hadits maupun menterjemahkan hadits. Bahasa Arab saja belum bisa, bagaimana bisa paham dengan terjemahan hadits. Sebab kita tahu bahwa bahasa Arab memiliki tingkatan makna. Jadi alangkah “lucunya” jika penulis menterjemahkan hadits dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki.

Oke, kembali kepada judul artikel ini. Bolehkah Beramal dengan Hadits Dha’if?

Berdasarkan apa yang pernah penulis pelajari dari guru penulis, Ust. Athoillah al Palimbani, dan juga berdasarkan referensi dari Kitab 40 Masalah Agama jilid 3 karangan Ustadz KH. Sirajuddin Abbas (Ulama kelahiran Bukittinggi, 1905-1980), maka beramal dengan hadits dha’if adalah diperbolehkan. Continue reading

Advertisements

KONTROVERSI HUKUM PUASA ROJAB : SUNNAH/BID’AH?

Oleh Buya Yahya Cirebon:

Masalah penetapan awal Bulan Hijriyah adalah kebijakan pemerintah agar tidak terjadi perpecahan dalam umat islam yang biasanya sering silang pendapat antara rukyah & hisab dalam penentuan awal bulan.

Untuk Bulan Rajab 1435 H, tanggal satunya adalah besok hari kamis 1 Mei 2014. Jadi, bagi kaum Muslimin Indonesia yang hendak melaksanakan Ibadah Puasa Sunnah Rajab bisa memulai Niat & Sahur malam ini juga. Untuk Kaum Muslimin di luar Indonesia dan di manapun berada silahkan mengikuti ketentuan penetapan awal bulan hijriyah di negri tempat anda tinggal sekarang. Continue reading

Hukum Puasa Rajab

rajab-syaban-ramadhan1

DALIL PERTAMA

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الأَنْصَارِيُّ ، قَالَ: سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ؟ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ. فَقَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللّهِ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لاَيُفْطِرُ. وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لاَ يَصُومُ.

 

“Sesungguhnya Ustman Ibn Hakim Al-Anshori, berkata: “Aku bertanya kepada Sa’id Ibn Jubair tentang puasa di bulan Rajab dan ketika itu kami memang di bulan Rajab”, maka Sa’id menjawab: “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: “Nabi Muhammad SAW berpuasa (di bulan Rajab) hingga kami katakan beliau tidak pernah berbuka di bulan Rajab, dan beliau juga pernah berbuka di bulan Rajab, hingga kami katakan beliau tidak berpuasa di bulan Rajab.” (H.R Muslim) Continue reading

Seutama-utamanya Perbuatan

Kajian    : Mukhtaarul Ahaadits (مختار الأحادث)
Oleh       : Ustadz KH M. Rusydi Ali
Waktu    : 16 Maret 2014 / ١٥ جمادى الأولى ١٤٣٥
Tempat  : Masjid Almujahidin (مسجد المجاهدين), Menteng Atas

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أنْ يَتَعَلَّمَ المَرْءُ المُسْلِمُ عِلْمًا، ثُمَّ يُعَلِّمُهُ أخَاهُ المُسْلِمَ
رواه إبن ماجه

“Seutama-utamanya sedekah adalah jika sesorang belajar kepada seorang Muslim suatu ilmu, kemudian ia mengajarkan ilmu tersebut kepada saudara Muslim lainnya.” (HR. Ibnu Majah)

أفْضَلُ العِيَادَةِ أَجْرًا سُرْعَةُ القِيَامِ مِن عِنْدِ المَرِيْضِ
رواه الديلمي عن جابر

“Seutama-utamanya kunjungan (terhadap orang sakit) yang besar pahalanya adalah mempercepat berdiri (meninggalkan) dari sisi orang yang sedang sakit.” (HR. Addailami dari Jabir) Kecuali jika orang yang berkunjung adalah yang dapat menyenangkan si sakit, seperti keluarga dan sahabat dekat.

Dan apabila kita mengetahui saudara kita (termasuk teman) ada yang sakit adalah bersegera mengunjunginya sebagaimana hadits Rasulullah pada artikel sebelumnya AKU sakit, kau tidak menjenguk-KU.

أَفْضَلُ الفَضَائِلِ أنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ، وَ تُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ، وَتَصْفَحَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ
رواه الطبرني عن معاذ

“Seutama-utamanya perkara yang utama adalah jika kamu menyambung (silaturahim) orang yang memutuskanmu, dan kamu memberi orang yang mengharamkanmu (pelit), dan kamu membalas kebaikan orang menzolimimu.” (HR. Thobroni dari Mu’adz)

Dalam kisah para sahabat, Rasulullah pernah bersabda agar mendoakan orang menyediakan makan untuk kita dengan doa berikut.

اللّٰهمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي وَ اسْقِي مَنْ سَقَانِي

Alloohumma ath'im man ath'amanii wasqii man saqoonii

“Ya Allah berilah makan orang yang telah memberiku makan, dan berilah minum orang yang telah memberiku minum”

Doa ini juga bisa dibaca untuk orang yang mentraktir kita. Lebih Utama lagi DOA ini ditujukan untuk orang tua kita.

واللّٰه أعْلمْ بِالصواب

ODOJ + T

Sudah sering dengar dengan ODOJ? Yup, betul sekali. One Day One Juz.

Lalu, apa itu ODOJ + T? Yup, anda juga betul sekali

ONE DAY ONE JUZ + TADABBUR

Kalau susah dengan mentadabburi Al-Quran, minimal dengan TAFSIR ataupun TERJEMAHAN.

Perintah One Day One Juz ini bukanlah hal yang baru. Hal ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. Akan tetapi apakah hanya perintah membaca saja? Tentu saja tidak. Mari kita simak beberapa hadits di bawah ini. Continue reading

#4. Bencana Agama

آفَةُ الدِّيْنِ ثَلَاثَةٌ: فَقِيْهٌ فَاجِرٌ، وَاِمَامٌ جَائِرٌ، وَمَجْتَحِدٌ جَاهِلٌ
رواه الدَيلمى عن ابن عبّاس

Bencana agama ada tiga, yaitu: ahli fikih yang durhaka, imam yang zalim, dan mujtahid yang jahil.
Riwayat Ad Dailami melalui Ibnu Abbas

Penjelasan:

Tiada bencana yang lebih besar daripada bencana yang menimpa agama. Dalam hadis ini disebutkan tiga faktor penyebabnya, yaitu ahli fikih yang durhaka, imam atau pemimpin yang zalim, dan mujtahid yang bodoh (tidak paham agama).

Dikatakan demikian sebab jika seorang ahli fikih yang gemar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, niscaya fatwa yang disampaikannya tidak akan dihargai orang lain, atau fatwanya itu hanya berdasarkan hawa nafsu, tidak sesuai dengan ketentuan ajaran agama yang justru memerintahkan untuk memerangi hawa nafsu, sehingga akan menimbulkan banyak kerusakan dalam agama. Selain itu, ia sebagai orang yang diteladani dalam masalah agama karena keahliannya dalam ilmu fikih seharusnya memberikan contoh yang baik. kepada orang-orang yang masih awam. Apabila memberikan contoh yang tidak baik, maka tindakannya akan menyesatkan orang lain, dan akan menjadi ancama bagi agama.

Seorang pemimpin dituntut untuk berlaku adil. Apabila ia bersikap sewenang-wenang, maka durhakalah ia, bahkan akan berdampak negatif terhadap agama. Yang diperturutkannya hanyalah nafsu, sehingga peraturan dan keputusannya dapat membawa bencana bagi agama.

Sama halnya dengan orang yang mengaku sebagai mujtahid, padahal iabelum sampai ke tingkat mujtahid yang sesungguhnya. Fatwa yang ia sampaikan tidak berdasarkan penguasaan yang mendalam, melainkan hanya berdasarkan terkaan saja. Akibatnya ia keliru dalam memberikan fatwa, sehingga sesatlah ia dan menyesatkan orang lain.

Wallahu a’lam bishshowwab

Sumber: Mukhtaarul Ahaadits, Hadits no. 4

#3. Bencana Ilmu

 آفَةُ الْعِلْمِ النِّسيَانُ وَاِضَاعَتُهُ اَنْ تُحَدِّثَ بِهِ غَيْرَ اَهْلِهِ

رواه ابن أبىْ شيبة

Bencana ilmu adalah lupa, dan menyia-nyiakannya ialah bila engkau membicarakannya dengan orang yang bukan ahlinya.
Riwayat Ibnu Abi Syaibah

Penjelasan:
Pepatah mengatakan, “Mencari ilmu itu sama dengan berburu”. Maksudnya dalam menuntut ilmu, sehingga dapat menguasainya, yang bersangkutan harus menempuh beberapa fase. Umpamanya kita berburu burung, dan ingin berhasil tanpa mencederainya, maka pertama kali yang harus kita lakukan adalah menangkapnya. Dengan demikian, jelaslah bahwa kita harus membawa pukat burung. Tahap kedua ialah memasukkannya ke dalam sangkar agar tidak lepas lagi. Tahap ketiga adalah memberinya makan agar tidak mati. Apabila burung itu hendak kita berikan kepada orang lain, maka lihat-lihat dahulu siapa yang akan kita beri. Agar burung tersebut tidak disia-siakan, tentu saja kita harus memberikannya kepada penggemarnya. Demikian pula halnya dengan suatu ilmu, apabila kita telah berhasil menguasainya, maka kita harus memeliharanya, yaitu dengan menghafal dan mengamalkannya agar tidak lupa. Apabila kita melupakannya, berarti sama saja dengan perihal burung yang telah kita tangkap tetapi tetapi tidak kita masukkan ke dalam sangkar, tentunya burung tersebut dapat lepas dan tidak akan kembali lagi. Dan apabila kita hendak memberikan ilmu kepada orang lain, maka berikanlah kepada ahli atau penggemarnya agar terpelihara dengan baik. Ilmu itu akan sia-sia jika diberikan kepada yang bukan ahli atau pecintanya.

Wallahu a’lam bishshowwab

Sumber: Mukhtaarul Ahaadits, Hadits no. 3